Tanda Dan Gejala Kista

Kista dapat memberikan berbagai keluhan seperti nyeri sewaktu haid, nyeri perut bagian bawah, sering merasa ingin buang air besar atau kecil, dan pada keadaan yang sudah lanjut dapat teraba benjolan pada daerah perut. Untuk jenis kista folikel, biasanya tidak memberikan rasa nyeri, sehingga kebanyakan penderita tidak menyadarinya. Namun, jika kista pecah, misalnya saat berhubungan seksual, penderita akan merasa nyeri yang bertambah

Berbeda dengan kista yang ada di organ tubuh lainnya, kista di ovarium atau indung telur bisa hilang dengan sendirinya. Kista yang bentuknya seperti kantung-kantung berisi caritan ini sebenarnya merupakan hasil ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium) yang normal terjadi setiap bulan saat seorang perempuan mengalami menstruasi. Kista itu biasaya akan menghilang dengan sendirinya. Namun kadangkala kista tersebut bisa saja justru terus berkembang dan semakin membesar. Bahkan, muncul kista-kista lain yang tidak ada kaitannya dengan proses ovulasi.

Kista seperti itulah yang perlu diwaspadai sehingga dibutuhkan pemeriksaan lebih lanjut guna mengetahui apakah berbahaya atau tidak, serta menentukan penanganan yang harus dilakukan. Kista yang normal (fisiologis) dengan tidak (patologis) bisa dilihat dari diameternya melalui pemeriksaan ultrasonografi (USG). Kista yang fisiologis berdiameter kurang dari lima sentimeter dan bukan cairan biasa, misalnya yang teradi pada kista endometriosis. Kista yang fisiologis umumnya akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu tiga bulan. Namun tetap harus diamati apakah kista tersebut mengalami pembesaran atau tidak.

Pada yang patologis pembesaran bisa terjadi relative cepat, yang kadang tidak disadari si penderita. Karena, kista tersebut sering muncul tanpa gejala seperti penyakit umumnya. Itu sebabnya diagnosa awalnya agak sulit dilakukan. Gejala-gejala seperti perut yang agak membuncit serta bagian bawah perut cukup besar. Jika sudah demikian biasanya perlu dilakukan tindakan pengangkatan melalui proses laparoskopi, sehingga tidak perlu dilakukan pengirisan di bagian perut penderita. Setelah diangkat, pemeriksaan rutin tetap perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kista itu akan muncul kembali atau tidak.

Perempuan yang memiliki kista didalam ovariumnya akan mengalami gejala-gejala sebagai berikut :

1. Mengalami menstruasi yang tidak teratur, abnoral, dan rapat secara periode
2. Terdapat masa absen, biasanya (tetapi tidak selalu) terjadi setelah satu atau lebih masa mentruasi normal
3. Timbul jerawat yang parah dan sangat mengganggu
4. Ukuran payudara mengalami penyusutan
5. Mengalami perkembangan pada karakteristik lelaki (virilization), seperti tumbuh rambut di sekujur tubuh dan wajah, suara berubah menjadi keras dan dalam, ukuran clitoris membesar
6. Diabetes
7. Rambut menjadi lebih tebal seperti layaknya lelaki
8. Mandul atau tidak mepunyai keturunan meski sudah melakukan pengobatan
9. Kandungan hormone insulin sangat sedkit
10. Mengalami kegemukan, obesitas

Tes-tes yang dapat dilakukan untuk menentukan apakah seorang perempuan mempunyai kista di dalam ovariumnya :

1. Abdominal ultrasound
2. Abdominal MRI
3. Biopsy of the ovary
4. Estrogen level
5. Fasting glucose and insulin levels
6. FSH levels
7. Male hormone (testosterone) levels
8. Urine 17-ketosteroids
9. Vaginal ultrasounds

Tes darah yang dilakukan :

- Pregnancy test (serum HCG)
- Proactin levels
- Throd function test

Tidak seperti kista folikel, kista korpus luteum umumnya memberikan nyeri hanya pada satu sisi dari perut bagian bawah. Penderita juga mengalami perubahan pola haid, misalnya terlambat haid atau pendarahan diantara periode haid. Pendarahan vagina yang hebat dan tidak teratur jika berlangsung kronik dapat berakibat pada anemia. Nyeri perut yang timbul biasanya hebat dan dapat disertai mual dan muntah. Pembesaran perut juga sering terjadi pada beberapa jenis kista yang cenderung tumbuh makin besar.

Yang perlu diketahui, kehamilan dapat mempengaruhi kista. Demikian pula kista dapat memengaruhi kehamilan. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa kista tidak akan membesar selama kehamilan. Ada pendapat yang menyebutkan bahwa kista tidak akan membesar selama kehamilan, tapi pada kenyataannya tidak. Kista sangat mungkin terus berkembang selama ibu mengandung karena hormon-hormon pada masa kehamilan dapat menjadi pemicu bertambah besarnya kista. Kista dapat menyebabkan letak janin didalam rahim menjadi abnormal. Semestinya memasuki trimester akhir, posisi janin sudah menuju jalan lahir. Namun karena terdesak ole kista maka letaknya jadi melintang atau miring. Akibatnya, tentu saja dapat memengaruhi proses persalinan. Meski begitu, jangan buru-buru beranggapan kista harus segera diangkat. Pengangkatan kista bergantung dari besarnya kista dan usia kehamilan. Bila saat ukurannya mencapai 3-4cm keberadaan kista sudah diketahui sejak dini maka dapat dilakukan pengangkatan kista saat kehamilan sudah memasuki usia 14 minggu.

Pengangkatan kista pada usia kehamilan 14 minggu ini relative aman sebab plasenta sudah terbentuk dengan sempurna sehingga dapat mengambil alih fungsi ovarium untuk mempertahankan hormone-hormon pada masa kehamilan. Sebaliknya, bila pengangkatan kista ditunda justru beresiko ibu mengalami keguguran bila kista pecah atau terpuntir. Karena, kondisi itu dapat menimbulkan rasa melilit dan nyeri yang sangat. Operasi pengangkatan kista sendiri tidak akan berdampak pada janin karena keduanya berada di tempat yang berbeda. Kista berada di ovarium sementara janin ada dirahim. Namun bila kista baru diketahui saat kehamilan trimester kedua sebaiknya dilakukan observasi atau pegamatan terlebih dahulu. Bila ukurannya tetap (karena posisinya sudah tertekan oleh uterus), maka pengangkatan kista (operasi) dapat dilakukan setelah melahirkan. Apalagi bila ini adalah kehamilan yang pertama bagi si ibu dan ingin melahirkan normal. Namun dalam kondisi darurat, bila tiba-tiba kista pecah, umpamanya, operasi pengangkatan harus segera dilaksanakan. Untuk itulah disarankan waspadai rasa nyeri yang tak tertahankan sebaiknya segera hubungi dokter yang ahli, karena dikhawatirkan kistanya terpuntir atau pecah. Tentunya kondisi ini perlu pengawasan intensif dari dokter.

Kista dibedakan menjadi 2, yakni kista fisiologis dan patologis. Kista fisiologis akan menghilang pada saat siklus haid yang akan datang. Sedangkan kista patologis tidak akan hilang pada siklus haid berikutnya. Untuk mengetahui apakah kista tersebut akan menjadi ganas atau tidak, akan dilakukan pemeriksaan darah atau USG Color Doppler (warna). Dengan alat tersebut dapat diketahui arus darah yang mengalir ke kista, apakah cenderung kearah ganas atau tidak.

Pemicu terjadinya kista pada perempuan, salah satunya adalah makanan berlemak. Ketidakseimbangan asupan lemak dapat meningkatkan kadar hormone testosterone dalam tubuh. Akibatnya, hormone estrogen dalam tubuh tidak bisa bekerja dengan baik. Inilah yang dapat memudahkan tumbuhnya kista, miom, dan lainnya. Kista patologis dapat dibedakan berdasarkan isinya.

Pertama, kista serosum. Isinya berupa cairan bening yang menyerupai air perasan kunyit. Jenis kista ini sering berkembang menjadi ganas, yaitu kanker indung telur atau kanker ovarium. Pendeteksian kista ini pada kehamilan harus akurat karena bentuknya menyerupai badan kuning(corpus luteum/CL).

Kedua, kista musinosum. Isinya berupa lendir kental yang lengket menyerupai ingus. Seperti halnya kista serosum, kista ini pun akan membesar akibat adanya kehamilan. Penanganan kista ini harus ekstra hati-hati karena jika sampai pecah, cairannya dapat membuat lengket organ-organ di dalam perut.

Ketiga, kista dermoid. Isinya menyerupai mentega dan kandungan lainnya seperti jaringan rambut, gigi, tulang atau sisa-sisa kulit janin. Dermoid timbul dari sisa-sisa sel embrio yang terpental ke organ genital.

Keempat, kista endometriosis yang berasal dari penyimpangan sel-sel selaput perut yang disebut peritoneum karena pengaruh percikan darah haid yang membalik ke dalam rongga perut. Pencetusnya bisa karena infeksi kandungan menahun. Paling banyak bersarang pada indung telur. Gejala Krista ini sangat khas karena berkaitan dengan haid. Indung telur yang mengalami endometriosis akan mengembang dan bertambah besar saat haid. Karenanya, penderita endometriosis sering mengalami nyeri haid.


=====================================

>>> Obat Herbal Alami Untuk Mengobati Penyakit Kista, Miom dan Tumor, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Gejala Kista and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>